Archive for June, 2010

Peranan pertanian dalam mengatasi masalah pengangguran, kemiskinan, dan ketahanan pangan

Wednesday, June 30th, 2010

Penelitian ini bertujuan menganalisis peranan sektor pertanian dalam perekonomian Indonesia, khususnya dalam mengatasi masalah pengangguran, kemiskinan dan 1ketahanan pangan. Data yang digunakan adalah data sekunder yang mencakup rentang waktu tahun 1975-2004, semuanya bersumber pada terbitan Badan Pusat Statistik . Data tersebut dianalisis dengan pendekatan kesetimbangan umum (Analisis Sistem Neraca Sosial Ekonomi atau SNSE) dan dengan metode ekonometrika, baik berupa system persamaan serentak maupun persamaan-persamaan tunggal. Pada dasarnya topik penelitian ini terbagi menjadi lima sub-topik yakni (1) Pengurangan Pengangguran, (2) Pengurangan Kemiskinan, (3) Prospek industri berbasis pertanian, (4) Perbaikan distribusi pendapatan, dan (5) peningkatan ketahanan pangan.

Indonesia’s Crisis and the Agricultural Sector: the Relevance of Agricultural Demand-Led Industrialisation

Wednesday, June 30th, 2010

Abstract

Following a remarkable period of sustained economic growth and development over the past three decades, Indonesia is experiencing an unprecedented economic and social crisis. The effects of the economic crisis have seriously undermined social welfare gains made by Indonesia over the past three decades. Indonesia has commenced a comprehensive program of economic and social reform aimed at restructuring the economy. This paper provides an overview of the social impact of economic crisis and how the economic crisis has impacted on the agricultural sector. Particular emphasis is placed on the relevance of agricultural demand-led industrialisation (ADLI) to address the economic crisis in Indonesia. The ADLI strategy argues that agriculture can be developed as an engine for economic recovery.

Fulltext pdf indonesia_crisis

Revitalisasi Industri Susu melalui Revolusi Putih

Saturday, June 26th, 2010

Tema peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) (25 Januari) pada tahun ini adalah “Gizi Mutakhir untuk Pertumbuhan dan Kecerdasan Anak”. Ini sangat menarik karena kualitas gizi masyarakat merupakan salah satu komponen penting bagi peningkatan kualitas sumberdaya manusia (SDM). Kualitas SDM—sebagaimana digunakan United Nation for Development Program (UNDP) untuk mengukur kualitas sumberdaya manusia (Human Development Index/HDI)—ditentukan oleh tiga komponen, yaitu tingkat pendapatan atau daya beli, tingkat kesehatan dan tingkat pendidikan.

Berdasarkan data statistik HDI,Indonesia menduduki peringkat ke 109 dari 179 negara yang diukur. Peringkat itu lebih rendah dibandingkan dengan negara tetangga seperti Brunei (peringkat 27), Singapura (28), Malaysia (63),Thailand (81), China (94) dan Filipina (102). Pencapaian Indonesia pada 2008 hanya lebih baik dibandingkan dengan Vietnam yang menduduki peringkat 114.

Artikel lengkapnya : Februari-2009-(hal.-60-61)
Sumber : Majalah Trobos

Revitalisasi Industri Susu melalui Revolusi Putih

Saturday, June 26th, 2010

Tema peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) (25 Januari) pada tahun ini adalah “Gizi Mutakhir untuk Pertumbuhan dan Kecerdasan Anak”. Ini sangat menarik karena kualitas gizi masyarakat merupakan salah satu komponen penting bagi peningkatan kualitas sumberdaya manusia (SDM). Kualitas SDM—sebagaimana digunakan United Nation for Development Program (UNDP) untuk mengukur kualitas sumberdaya manusia (Human Development Index/HDI)—ditentukan oleh tiga komponen, yaitu tingkat pendapatan atau daya beli, tingkat kesehatan dan tingkat pendidikan.

Berdasarkan data statistik HDI,Indonesia menduduki peringkat ke 109 dari 179 negara yang diukur. Peringkat itu lebih rendah dibandingkan dengan negara tetangga seperti Brunei (peringkat 27), Singapura (28), Malaysia (63),Thailand (81), China (94) dan Filipina (102). Pencapaian Indonesia pada 2008 hanya lebih baik dibandingkan dengan Vietnam yang menduduki peringkat 114.

Artikel lengkapnya : Februari-2009-(hal.-60-61)
Sumber : Majalah Trobos

Tantangan dan Peluang Peternakan di Tengah Krisis Finansial Global

Saturday, June 26th, 2010

Krisis finansial global yang terjadi pada tahun 2008 mengantarkan Indonesia membuka lembaran ekonomi yang penuh dengan potret buram pada tahun 2009. Salah satu potret buram tersebut adalah pertumbuhan ekonomi yang melambat. Pada tahun 2009, perekonomian Indonesia diperkirakan akan tumbuh sebesar 4-5% saja. Padahal sebelumnya, pada 2008 bisa tumbuh di atas 6% per tahun. Sebagai sektor penghasil pangan strategis, peran dan prospek peternakan ke depan akan tetap tumbuh meskipun dengan laju pertumbuhan yang melambat. Masalah besar dalam perekonomian makro terkait dengan krisis pangan, energi dan keuangan global (global food, feed, fuel and financial crisis) atau yang sering disebut 4F. Ke depan yang perlu diantisipasi adalah adanya (a) laju inflasi meningkat signifikan, (b) daya beli melemah akibat tingginya inflasi, (c) neraca keuangan pemerintah tertekan akibat semakin besarnya subsidi pada harga jual komoditas di pasar  domestik, dan (d) pasar keuangan tertekan sehubungan dengan prospek ekonomi yang menurun dan resiko investasi yang meningkat.

Artikel lengkap : Januari-2009-(hal.-62-63)
Sumber: Majalah Trobos

Tantangan dan Peluang Peternakan di Tengah Krisis Finansial Global

Saturday, June 26th, 2010

Krisis finansial global yang terjadi pada tahun 2008 mengantarkan Indonesia membuka lembaran ekonomi yang penuh dengan potret buram pada tahun 2009. Salah satu potret buram tersebut adalah pertumbuhan ekonomi yang melambat. Pada tahun 2009, perekonomian Indonesia diperkirakan akan tumbuh sebesar 4-5% saja. Padahal sebelumnya, pada 2008 bisa tumbuh di atas 6% per tahun. Sebagai sektor penghasil pangan strategis, peran dan prospek peternakan ke depan akan tetap tumbuh meskipun dengan laju pertumbuhan yang melambat. Masalah besar dalam perekonomian makro terkait dengan krisis pangan, energi dan keuangan global (global food, feed, fuel and financial crisis) atau yang sering disebut 4F. Ke depan yang perlu diantisipasi adalah adanya (a) laju inflasi meningkat signifikan, (b) daya beli melemah akibat tingginya inflasi, (c) neraca keuangan pemerintah tertekan akibat semakin besarnya subsidi pada harga jual komoditas di pasar  domestik, dan (d) pasar keuangan tertekan sehubungan dengan prospek ekonomi yang menurun dan resiko investasi yang meningkat.

Artikel lengkap : Januari-2009-(hal.-62-63)
Sumber: Majalah Trobos

Arief Daryanto Awalnya Menolak

Saturday, June 26th, 2010

Menengar testimoni diatas Dr. Ir. Arief Daryanto, M.Ec mengatakan, hari ini adalah hari yang sulit bagi saya. Karena bila untuk menyampaikan kuliah, tanpa persiapan saya yakin saya bisa menyampaikannya dengan baik. ”Namun bila untuk menyampaikan testimoni, saya gelisah hingga tadi malam tidak bisa tidur”, kata Arief mengawali sambutannya. Saya mengikuti ESQ Eksekutif angkatan 38 yang digelar pada Agustus 2005. Awalnya sering diajak oleh istri namun selalu menolak. “Tidaklah, nilai-nilai ESQ itukan sudah ada dalam diri saya dan sudah saya lakukan”, katanya waktu itu.

Istrinya tidak menyerah. Kemudian, istrinya mengikutkan anaknya yang pertama, kedua dan ketiga. Setelah seluruh keluarga menjadi alumni, akhirnya seluruh keluarga itu, meminta Arief untuk ikut ESQ training. Setelah itu, Arief baru menyerah dan mengikuti ESQ Training. Namun karena tidak atas kemauan sendiri, Arief mengikuti ESQ training dengan malas. Tetapi sesampai diruangan, setelah melihat Ary Ginanjar Agustian menyampaikan nilai-nilai ESQ, Arief menjadi bersemangat. Dan setelah itu, ternyata nilai-nilai ESQ mempengaruhi langkah-langkahnya dalam menjalani hidup.

“Saya katakan kepada istri saya terima kasih, telah mengingatkan saya. Terus-terang selama ini saya memandang rendah ESQ. Nilai-nilai ESQ tidak datang dengan sendirinya, tetapi nilai-nilai ini butuh forum untuk terus selalu membangkitkannya. “Dan di ESQ Training inilah tempatnya”, ujarnya.

Peranan ESQ dalam pendidikan

Selama ini dalam sistem pendidikan kita, kita hanya menekankan pada sisi IQ atau hard skill. Sedangkan untuk sisi EQ atau soft skill masih lemah. “Padahal soft skill itu jauh lebih penting”, katanya. Fenomena ini juga ia rasakan di lembaga yang ia pimpin. Dan lebih mendasar dari IQ dan EQ yaitu SQ sebagai sumber inspirasi, inovasi dan kreasi adalah suatu yang absolute dibutuhkan manusia untuk maju.

Sebagai contoh, lulusan MB IPB itu, memiliki kemampuan daya intelektual, dan daya analisis yang baik. Namun bagaimana mereka mampu menjalin bekerjasama, menjual ide dan meyakinkan pihak kedua, dirasa masih kurang. Di ESQ, kita diingatkan, bahwa inovasi, dan kreasi itu datangnya dari dalam. Yaitu dari suara hati. Dan setelah diolah dan dipikir masak-masak, Saat ini MB IPB memadukan antara Hard skill dan soft skill. 70 Hard skill dan 30 Soft skill. Saptono Adi Muryanto

Sumber: gopanindonesia

Arief Daryanto Awalnya Menolak

Saturday, June 26th, 2010

Menengar testimoni diatas Dr. Ir. Arief Daryanto, M.Ec mengatakan, hari ini adalah hari yang sulit bagi saya. Karena bila untuk menyampaikan kuliah, tanpa persiapan saya yakin saya bisa menyampaikannya dengan baik. ”Namun bila untuk menyampaikan testimoni, saya gelisah hingga tadi malam tidak bisa tidur”, kata Arief mengawali sambutannya. Saya mengikuti ESQ Eksekutif angkatan 38 yang digelar pada Agustus 2005. Awalnya sering diajak oleh istri namun selalu menolak. “Tidaklah, nilai-nilai ESQ itukan sudah ada dalam diri saya dan sudah saya lakukan”, katanya waktu itu.

Istrinya tidak menyerah. Kemudian, istrinya mengikutkan anaknya yang pertama, kedua dan ketiga. Setelah seluruh keluarga menjadi alumni, akhirnya seluruh keluarga itu, meminta Arief untuk ikut ESQ training. Setelah itu, Arief baru menyerah dan mengikuti ESQ Training. Namun karena tidak atas kemauan sendiri, Arief mengikuti ESQ training dengan malas. Tetapi sesampai diruangan, setelah melihat Ary Ginanjar Agustian menyampaikan nilai-nilai ESQ, Arief menjadi bersemangat. Dan setelah itu, ternyata nilai-nilai ESQ mempengaruhi langkah-langkahnya dalam menjalani hidup.

“Saya katakan kepada istri saya terima kasih, telah mengingatkan saya. Terus-terang selama ini saya memandang rendah ESQ. Nilai-nilai ESQ tidak datang dengan sendirinya, tetapi nilai-nilai ini butuh forum untuk terus selalu membangkitkannya. “Dan di ESQ Training inilah tempatnya”, ujarnya.

Peranan ESQ dalam pendidikan

Selama ini dalam sistem pendidikan kita, kita hanya menekankan pada sisi IQ atau hard skill. Sedangkan untuk sisi EQ atau soft skill masih lemah. “Padahal soft skill itu jauh lebih penting”, katanya. Fenomena ini juga ia rasakan di lembaga yang ia pimpin. Dan lebih mendasar dari IQ dan EQ yaitu SQ sebagai sumber inspirasi, inovasi dan kreasi adalah suatu yang absolute dibutuhkan manusia untuk maju.

Sebagai contoh, lulusan MB IPB itu, memiliki kemampuan daya intelektual, dan daya analisis yang baik. Namun bagaimana mereka mampu menjalin bekerjasama, menjual ide dan meyakinkan pihak kedua, dirasa masih kurang. Di ESQ, kita diingatkan, bahwa inovasi, dan kreasi itu datangnya dari dalam. Yaitu dari suara hati. Dan setelah diolah dan dipikir masak-masak, Saat ini MB IPB memadukan antara Hard skill dan soft skill. 70 Hard skill dan 30 Soft skill. Saptono Adi Muryanto

Sumber: gopanindonesia

Arief Daryanto Awalnya Menolak

Saturday, June 26th, 2010

Menengar testimoni diatas Dr. Ir. Arief Daryanto, M.Ec mengatakan, hari ini adalah hari yang sulit bagi saya. Karena bila untuk menyampaikan kuliah, tanpa persiapan saya yakin saya bisa menyampaikannya dengan baik. ”Namun bila untuk menyampaikan testimoni, saya gelisah hingga tadi malam tidak bisa tidur”, kata Arief mengawali sambutannya. Saya mengikuti ESQ Eksekutif angkatan 38 yang digelar pada Agustus 2005. Awalnya sering diajak oleh istri namun selalu menolak. “Tidaklah, nilai-nilai ESQ itukan sudah ada dalam diri saya dan sudah saya lakukan”, katanya waktu itu.

Istrinya tidak menyerah. Kemudian, istrinya mengikutkan anaknya yang pertama, kedua dan ketiga. Setelah seluruh keluarga menjadi alumni, akhirnya seluruh keluarga itu, meminta Arief untuk ikut ESQ training. Setelah itu, Arief baru menyerah dan mengikuti ESQ Training. Namun karena tidak atas kemauan sendiri, Arief mengikuti ESQ training dengan malas. Tetapi sesampai diruangan, setelah melihat Ary Ginanjar Agustian menyampaikan nilai-nilai ESQ, Arief menjadi bersemangat. Dan setelah itu, ternyata nilai-nilai ESQ mempengaruhi langkah-langkahnya dalam menjalani hidup.

“Saya katakan kepada istri saya terima kasih, telah mengingatkan saya. Terus-terang selama ini saya memandang rendah ESQ. Nilai-nilai ESQ tidak datang dengan sendirinya, tetapi nilai-nilai ini butuh forum untuk terus selalu membangkitkannya. “Dan di ESQ Training inilah tempatnya”, ujarnya.

Peranan ESQ dalam pendidikan

Selama ini dalam sistem pendidikan kita, kita hanya menekankan pada sisi IQ atau hard skill. Sedangkan untuk sisi EQ atau soft skill masih lemah. “Padahal soft skill itu jauh lebih penting”, katanya. Fenomena ini juga ia rasakan di lembaga yang ia pimpin. Dan lebih mendasar dari IQ dan EQ yaitu SQ sebagai sumber inspirasi, inovasi dan kreasi adalah suatu yang absolute dibutuhkan manusia untuk maju.

Sebagai contoh, lulusan MB IPB itu, memiliki kemampuan daya intelektual, dan daya analisis yang baik. Namun bagaimana mereka mampu menjalin bekerjasama, menjual ide dan meyakinkan pihak kedua, dirasa masih kurang. Di ESQ, kita diingatkan, bahwa inovasi, dan kreasi itu datangnya dari dalam. Yaitu dari suara hati. Dan setelah diolah dan dipikir masak-masak, Saat ini MB IPB memadukan antara Hard skill dan soft skill. 70 Hard skill dan 30 Soft skill. Saptono Adi Muryanto

Sumber: gopanindonesia

Pertanyaan untuk Dr. Ir. Arief Daryanto, MEc. Direktur MB-IPB

Saturday, June 26th, 2010

Jurnal Bogor, 1 March 2010

Masalah Utamanya SDM
Dunia akademis seolah sudah menjadi kecintaan bapak tiga anak ini. Betapa tidak, sejak menyelesaikan pendidikan sarjananya, ia langsung mengabdikan diri di dunia pendidikan hingga saat ini. Namun, tak hanya bergelut dalam satu bidang saja, penulis buku ‘Dinamika Daya Saing Industri Peternakan’ ini juga aktif dalam berbagai organisasi. Lantas, apa yang melatarbelakanginya untuk menggeluti bidang ini? Simak penuturan Dr. Ir. Arief Daryanto, MEc. Direktur Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bogor (MB-IPB) yang juga pernah menjadi wali kelas Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono ketika menjadi mahasiswa program S3 di IPB, kepada Wartawan Jurnal Bogor Nadia Yuliana.
Apa misi yang Anda emban dalam jabatan saat ini?
Saya ingin menjadikan MB-IPB ini sebagai lembaga pendidikan pascasarjana yang mampu menumbuh kembangkan SDM dalam menangani persoalan manajemen dan bisnis dalam bidang resource based industry baik di kancah nasional maupun internasional.

Daptkah Anda jelaskan visi MB-IPB?
Visi MB-IPB adalah menyelenggarakan pendidikan pascasarjana yang berkualitas dengan penguasaan utama pada kemampuan dan ketrampilan manajerial di bidang agribisnis dan resource based industry, menghasilkan lulusan yang bermoral, tangguh, berjiwa pemimpin, berwawasan luas bagi pengembangan lembaga bisnis, pendidikan atau birokrasi, mendorong terciptanya SDM yang profesional, bertanggung jawab, memiliki enterpreneurial skills, serta mampu dan trampil dalam berkomunikasi secara efektif, dan menyelenggarakan aktifitas akademik unggulan dalam membina perwujudan pembelajaran kontinu bagi para pengelola perusahaan (Executive Development Program).

Lalu, apa saja program yang ditawarkan dan apa program yang paling populer?
MB-IPB sejak didirikan pada 1992 tidak mempunyai variasi program, tetapi fokus pada satu pogram unggulan, yakni Magister Manajemen Agribisnis dan sejak tahun 2005 di mana  MMA-IPB dielevasi menjadi MB-IPB. Program ditambah dengan program Doktor Manajemen Bisnis. Untuk MMA ada 9 bidang konsentrasi yang dapat dipilih, sedangkan untuk DMB ada 4 bidang, tetapi seluruhnya tetap berada di bawah payung yang sama, yaitu MM Agribisnis di tingkat Master dan Manajemen Bisnis di tingkat Doktoral. Selama ini bidang konsentrasi yang paling populer dipilih mahasiswa di tingkat Master adalah Manajemen Strategik, Manajemen Pemasaran,  Manajemen SDM dan Manajemen Finansial. Sedangkan Program Doktor sejauh ini hanya menawarkan empat bidang konsentrasi, yaitu Manajemen Agribisnis, Manajemen Strategik, Manajemen SDM dan Manajemen Finansial.

Lantas kontribusi apa yang ingin diberikan oleh MB-IPB?
MB-IPB ingin menghasilkan SDM yang berkualitas dan berintegritas untuk berbagai lini bisnis, khususnya sektor agribisnis, membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya sektor agribisnis bagi kesejahteraan bangsa, dan melahirkan berbagai konsep pengembangan agribisnis yang dapat dikembangkan di Indonesia. Untuk merevitalisasi kembali sektor pertanian diperlukan pandangan baru dari para stakeholders sektor pertanian baik itu penentu kebijakan, pelaku bisnis (termasuk petani), ilmuwan dan pengamat dan masyarakat secara menyeluruh.

Bagaimana pandangan Anda terhadap masalah yang dihadapi oleh bangsa ini terkait dengan kualitas Sumber Daya Manusia?
Dalam masalah kualitas ini saya melihatnya disebabkan oleh tiga hal utama. Pertama, komitmen pemerintah untuk mengalokasikan anggaran pendidikan yang memadai sebagai investasi jangka panjang. Anggaran pendidikan sebesar 20 persen baru direalisasikan tahun ini dan dampaknya mungkin baru kita rasakan 10-15 tahun yang akan datang. Kedua adalah masalah mismatch antara SDM yang dibutuhkan oleh bangsa dan dunia usaha dengan SDM yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan. Serta faktor ketiga adalah keseimbangan sistem remunerasi berbagai bidang pekerjaan. Bidang-bidang yang misalnya dibutuhkan oleh bangsa seperti peneliti dalam bidang ilmu-ilmu dasar tidak mendapatkan penghargaan yang menarik.

Menurut Anda, apa yang menjadi ‘pekerjaan rumah’ bagi para pemimpin negeri ini untuk menjawab tantangan kompetisi global yang mengandalkan kualitas SDM?
Menurut saya PR bagi pimpinan negeri ini untuk menjawab tantangan kompetisi global yang mengandalkan kualitas SDM adalah yang pertama membangun kesadaran bersama akan pentingnya investasi yang bersifat jangka panjang dalam pengembangan SDM ini. Ini bukan hanya tugas Depdiknas saja, melainkan tugas semua pihak.

Selain itu?
Ya, selain itu adalah sistem pendidikan dan pengajaran yang harus dievaluasi agar lebih kompetitif di era globalisasi. Pendidikan di Indonesia mempunyai kualitas  yang belum sesuai dengan kebutuhan mereka pada saat kelak memasuki dunia kerja. Hal terakhir adalah bagaimana menciptakan SDM yang cerdas tetapi juga berintegritas.

Buku Anda yang berjudul ‘Dinamika Daya Saing Industri Peternakan’ menjadi salah satu buku terlaris di Gramedia. Dapatkah Anda jelaskan?
Alhamdulillah, buku saya menjadi buku terlaris di Gramedia Bogor, dan menjadi Best Seller di seluruh Indonesia. Buku itu dicetak pertama kali pada Oktober 2009, lalu cetakan kedua pada Desember di tahun yang sama. Isinya mengenai peranan agribisnis peternakan dalam pembangunan, strategi peningkatan minat generasi muda terhadap bidang pertanian dan ‘Lesson Learnt’ peningkatan daya saing industri peternakan di Cina, serta hal-hal lain yang berhubungan dengan dinamika dunia peternakan.

Selain menggeluti bidang akademis, adakah kegiatan Anda yang lain serta apa hobi Anda?
Ya, selain di dunia akademis, saya juga aktif di beberapa organisasi. Di antaranya koordinator alumni University of New England (UNE), Australia, Sekjen Himpunan Alumni IPB, dan Ketua Komite SMPN 5 Bogor . Saya juga aktif menulis di berbagai media dan menjadi narasumber dalam seminar atau lokakarya nasional dan internasional. Saat ini saya menjabat Dewan Redaksi di majalah TROBOS. Hobi saya adalah travelling dan wisata kuliner.

=nadia yuliana Iskandar/jurnal bogor
Sumber : Jurnal Bogor