Archive for July, 2010

Posisi Daya Saing Pertanian Indonesia Dan Upaya Peningkatannya

Tuesday, July 20th, 2010

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pertanian memiliki peranan yang sangat strategis dalam kehidupan kita. Xenophon, filsuf dan sejarawan Yunani yang hidup 425-355 SM mengatakan bahwa “Agriculture is the mother and nourishes of all other arts. When it is well conducted, all other arts prosper. When it is neglected, all other arts decline”. Pertanian adalah ibu dari segala budaya. Jika pertanian berjalan dengan baik, maka budaya-budaya lainnya akan tumbuh dengan baik pula, tetapi manakala sektor ini diterlantarkan, maka semua budaya lainnya akan rusak. Pentingnya pertanian juga dinyatakan oleh filsuf terkenal Lao Tze, yang hidup sekitar 600 tahun SM. Ia mengatakan bahwa “There is nothing more important than agriculture in governing people and serving the Heaven”, Tidak ada suatu pun yang lebih penting di dunia ini selain pertanian, jika ingin masuk surga.

Sektor pertanian telah terbukti memiliki peranan penting bagi pembangunan perekonomian suatu bangsa. Hal ini didasarkan pada kontribusi sektor pertanian yang tidak hanya berperan dalam pembentukan PDB, penciptaan kesempatan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat dan perolehan devisa. Peranan sektor pertanian juga dapat dilihat secara lebih komperhensif, antara lain : (a) sebagai penyediaan pangan masyarakat sehingga mampu berperan secara strategis dalam penciptaan ketahanan pangan nasional (food security) yang sangat erat kaitannya dengan ketahanan sosial (socio security), stabilitas ekonomi, stabilitas politik, dan keamanan atau ketahanan nasional (national security); (b) sektor pertanian menghasilkan bahan baku untuk peningkatan sektor industri dan jasa, (c) sektor pertanian dapat menghasilkan atau menghemat devisa yang berasal dari ekspor atau produk subtitusi impor, (d) sektor pertanian merupakan pasar yang potensial bagi produk-produk sektor industri, (e) transfer surplus tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri merupakan salah satu sumber pertumbuhan ekonomi, dan (f) sektor pertanian mampu menyediakan modal bagi pengembangan sektor-sektor lain (a net outflow of capital for invesment in other sectors); serta (g) peran pertanian dalam penyediaan jasa-jasa lingkungan.

Pertanian juga dipandang sebagai suatu sektor yang memiliki kemampuan khusus dalam memadukan pertumbuhan dan pemerataan (growth with equity) atau pertumbuhan yang berkualitas (Daryanto, 2009). Semakin besarnya perhatian terhadap melebarnya perbedaan pendapatan memberikan stimulan yang lebih besar untuk lebih baik memanfaatkan kekuatan pertanian bagi pembangunan. Terlebih sekitar 45 persen tenaga kerja bergantung pada sektor pertanian primer maka tidak heran sektor pertanian menjadi basis pertumbuhan di pedesaan. Pertanian sudah lama disadari sebagai instrumen untuk mengurangi kemiskinan. Pertumbuhan sektor pertanian memiliki kemampuan khusus untuk mengurangi kemiskinan. Estimasi lintas negara menunjukkan bahwa pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) yang dipicu oleh pertanian paling tidak dua kali lebih efektif dalam mengurangi kemiskinan daripada pertumbuhan yang disebabkan oleh sektor di luar pertanian. Kontribusi besar yang dimiliki sektor pertanian tersebut memberikan sinyal bahwa pentingnya membangun pertanian yang berkelanjutan secara konsisten untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus kesejahteraan rakyat.

Artikel selengkapnya:  Dalam format pdf
Sumber : http://pse.litbang.deptan.go.id/ind/pdffiles/MU_Arief.pdf

Posisi Daya Saing Pertanian Indonesia Dan Upaya Peningkatannya

Tuesday, July 20th, 2010

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pertanian memiliki peranan yang sangat strategis dalam kehidupan kita. Xenophon, filsuf dan sejarawan Yunani yang hidup 425-355 SM mengatakan bahwa “Agriculture is the mother and nourishes of all other arts. When it is well conducted, all other arts prosper. When it is neglected, all other arts decline”. Pertanian adalah ibu dari segala budaya. Jika pertanian berjalan dengan baik, maka budaya-budaya lainnya akan tumbuh dengan baik pula, tetapi manakala sektor ini diterlantarkan, maka semua budaya lainnya akan rusak. Pentingnya pertanian juga dinyatakan oleh filsuf terkenal Lao Tze, yang hidup sekitar 600 tahun SM. Ia mengatakan bahwa “There is nothing more important than agriculture in governing people and serving the Heaven”, Tidak ada suatu pun yang lebih penting di dunia ini selain pertanian, jika ingin masuk surga.

Sektor pertanian telah terbukti memiliki peranan penting bagi pembangunan perekonomian suatu bangsa. Hal ini didasarkan pada kontribusi sektor pertanian yang tidak hanya berperan dalam pembentukan PDB, penciptaan kesempatan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat dan perolehan devisa. Peranan sektor pertanian juga dapat dilihat secara lebih komperhensif, antara lain : (a) sebagai penyediaan pangan masyarakat sehingga mampu berperan secara strategis dalam penciptaan ketahanan pangan nasional (food security) yang sangat erat kaitannya dengan ketahanan sosial (socio security), stabilitas ekonomi, stabilitas politik, dan keamanan atau ketahanan nasional (national security); (b) sektor pertanian menghasilkan bahan baku untuk peningkatan sektor industri dan jasa, (c) sektor pertanian dapat menghasilkan atau menghemat devisa yang berasal dari ekspor atau produk subtitusi impor, (d) sektor pertanian merupakan pasar yang potensial bagi produk-produk sektor industri, (e) transfer surplus tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri merupakan salah satu sumber pertumbuhan ekonomi, dan (f) sektor pertanian mampu menyediakan modal bagi pengembangan sektor-sektor lain (a net outflow of capital for invesment in other sectors); serta (g) peran pertanian dalam penyediaan jasa-jasa lingkungan.

Pertanian juga dipandang sebagai suatu sektor yang memiliki kemampuan khusus dalam memadukan pertumbuhan dan pemerataan (growth with equity) atau pertumbuhan yang berkualitas (Daryanto, 2009). Semakin besarnya perhatian terhadap melebarnya perbedaan pendapatan memberikan stimulan yang lebih besar untuk lebih baik memanfaatkan kekuatan pertanian bagi pembangunan. Terlebih sekitar 45 persen tenaga kerja bergantung pada sektor pertanian primer maka tidak heran sektor pertanian menjadi basis pertumbuhan di pedesaan. Pertanian sudah lama disadari sebagai instrumen untuk mengurangi kemiskinan. Pertumbuhan sektor pertanian memiliki kemampuan khusus untuk mengurangi kemiskinan. Estimasi lintas negara menunjukkan bahwa pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) yang dipicu oleh pertanian paling tidak dua kali lebih efektif dalam mengurangi kemiskinan daripada pertumbuhan yang disebabkan oleh sektor di luar pertanian. Kontribusi besar yang dimiliki sektor pertanian tersebut memberikan sinyal bahwa pentingnya membangun pertanian yang berkelanjutan secara konsisten untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus kesejahteraan rakyat.

Artikel selengkapnya:  Dalam format pdf
Sumber : http://pse.litbang.deptan.go.id/ind/pdffiles/MU_Arief.pdf

Posisi Daya Saing Pertanian Indonesia Dan Upaya Peningkatannya

Tuesday, July 20th, 2010

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pertanian memiliki peranan yang sangat strategis dalam kehidupan kita. Xenophon, filsuf dan sejarawan Yunani yang hidup 425-355 SM mengatakan bahwa “Agriculture is the mother and nourishes of all other arts. When it is well conducted, all other arts prosper. When it is neglected, all other arts decline”. Pertanian adalah ibu dari segala budaya. Jika pertanian berjalan dengan baik, maka budaya-budaya lainnya akan tumbuh dengan baik pula, tetapi manakala sektor ini diterlantarkan, maka semua budaya lainnya akan rusak. Pentingnya pertanian juga dinyatakan oleh filsuf terkenal Lao Tze, yang hidup sekitar 600 tahun SM. Ia mengatakan bahwa “There is nothing more important than agriculture in governing people and serving the Heaven”, Tidak ada suatu pun yang lebih penting di dunia ini selain pertanian, jika ingin masuk surga.

Sektor pertanian telah terbukti memiliki peranan penting bagi pembangunan perekonomian suatu bangsa. Hal ini didasarkan pada kontribusi sektor pertanian yang tidak hanya berperan dalam pembentukan PDB, penciptaan kesempatan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat dan perolehan devisa. Peranan sektor pertanian juga dapat dilihat secara lebih komperhensif, antara lain : (a) sebagai penyediaan pangan masyarakat sehingga mampu berperan secara strategis dalam penciptaan ketahanan pangan nasional (food security) yang sangat erat kaitannya dengan ketahanan sosial (socio security), stabilitas ekonomi, stabilitas politik, dan keamanan atau ketahanan nasional (national security); (b) sektor pertanian menghasilkan bahan baku untuk peningkatan sektor industri dan jasa, (c) sektor pertanian dapat menghasilkan atau menghemat devisa yang berasal dari ekspor atau produk subtitusi impor, (d) sektor pertanian merupakan pasar yang potensial bagi produk-produk sektor industri, (e) transfer surplus tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri merupakan salah satu sumber pertumbuhan ekonomi, dan (f) sektor pertanian mampu menyediakan modal bagi pengembangan sektor-sektor lain (a net outflow of capital for invesment in other sectors); serta (g) peran pertanian dalam penyediaan jasa-jasa lingkungan.

Pertanian juga dipandang sebagai suatu sektor yang memiliki kemampuan khusus dalam memadukan pertumbuhan dan pemerataan (growth with equity) atau pertumbuhan yang berkualitas (Daryanto, 2009). Semakin besarnya perhatian terhadap melebarnya perbedaan pendapatan memberikan stimulan yang lebih besar untuk lebih baik memanfaatkan kekuatan pertanian bagi pembangunan. Terlebih sekitar 45 persen tenaga kerja bergantung pada sektor pertanian primer maka tidak heran sektor pertanian menjadi basis pertumbuhan di pedesaan. Pertanian sudah lama disadari sebagai instrumen untuk mengurangi kemiskinan. Pertumbuhan sektor pertanian memiliki kemampuan khusus untuk mengurangi kemiskinan. Estimasi lintas negara menunjukkan bahwa pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) yang dipicu oleh pertanian paling tidak dua kali lebih efektif dalam mengurangi kemiskinan daripada pertumbuhan yang disebabkan oleh sektor di luar pertanian. Kontribusi besar yang dimiliki sektor pertanian tersebut memberikan sinyal bahwa pentingnya membangun pertanian yang berkelanjutan secara konsisten untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus kesejahteraan rakyat.

Artikel selengkapnya:  Dalam format pdf
Sumber : http://pse.litbang.deptan.go.id/ind/pdffiles/MU_Arief.pdf

Indonesia’s Crisis and the Agricultural Sector: the Relevance of Agricultural Demand-Led Industrialisation

Tuesday, July 20th, 2010

Abstract

Following a remarkable period of sustained economic growth and development over the past three decades, Indonesia is experiencing an unprecedented economic and social crisis. The effects of the economic crisis have seriously undermined social welfare gains made by Indonesia over the past three decades. Indonesia has commenced a comprehensive program of economic and social reform aimed at restructuring the economy. This paper provides an overview of the social impact of economic crisis and how the economic crisis has impacted on the agricultural sector. Particular emphasis is placed on the relevance of agricultural demand-led industrialisation (ADLI) to address the economic crisis in Indonesia.  The ADLI strategy argues that agriculture can be developed as an engine for economic recovery.
Artikel selengkapnya : UNEAC_asia_paper_no_2_1999_arief Atau http://www.une.edu.au/asiacentre/PDF/Arief.pdf

Indonesia’s Crisis and the Agricultural Sector: the Relevance of Agricultural Demand-Led Industrialisation

Tuesday, July 20th, 2010

Abstract

Following a remarkable period of sustained economic growth and development over the past three decades, Indonesia is experiencing an unprecedented economic and social crisis. The effects of the economic crisis have seriously undermined social welfare gains made by Indonesia over the past three decades. Indonesia has commenced a comprehensive program of economic and social reform aimed at restructuring the economy. This paper provides an overview of the social impact of economic crisis and how the economic crisis has impacted on the agricultural sector. Particular emphasis is placed on the relevance of agricultural demand-led industrialisation (ADLI) to address the economic crisis in Indonesia.  The ADLI strategy argues that agriculture can be developed as an engine for economic recovery.
Artikel selengkapnya : UNEAC_asia_paper_no_2_1999_arief Atau http://www.une.edu.au/asiacentre/PDF/Arief.pdf

MB-IPB Business Research Method Class

Tuesday, July 13th, 2010

06 ANALISIS DATA1 Research Method UMA SEKARAN

TUGAS MRB R46

01 TINJAUAN RISET BISNIS

KUESIONER R46

5 MEASUREMENT

Book1

Soal UJIAN-MRB-R46

Artikel UJIAN MRB R46

Hari Susu Nusantara Dan Pentingnya Merevitalisasi Industri Susu Nasional

Friday, July 9th, 2010

Trobos, Juni 2010

Sejak tahun 2001, setiap tanggal 1 Juni, FAO (the Food and Agriculture Organization) merayakan “the World Milk Day” atau hari susu dunia. FAO meyakini bahwa susu merupakan komoditas pangan yang hampir sempurna karena didalamnya tergantung 9 bahan nutrisi pokok yang bermanfaat untuk menjaga tubuh manusia agar tetap sehat dan kuat. Hari susu dunia dicanangkan agar konsumsi masyarakat terhadap komoditas susu dan turunannya semakin meningkat. Jika konsumsi susu masyarakat diharapkan kualitas sumberdaya manusia akan meningkat pula.Dalam rangka hari susu dunia, Indonesia sejak tahun lalu juga telah mencanangkan tanggal 1 Juni sebagai Hari Susu Nusantara.

Analisis Input-Output & Social Accounting Matrix untuk Pembangunan Ekonomi Daerah

Friday, July 2nd, 2010

Arief Daryanto & Yundy Hafizrianda
Bogor; IPB Press, 2010
ISBN : 978-979-493-254-1

Strategi pembangunan ekonomi daerah senantiasa ditekankan pada terciptanya pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas ekonomi, pemerataan distribusi pendapatan dan pengentasan kemiskinan. Dampak suatu kebijakan ekonomi daerah lebih tepat dianalisis berdasarkan teori keseimbangan umum (general equilibrium) dibandingkan dengan teori keseimbangan parsial (partial equilibrium).

Teori keseimbangan umum menjelaskan bahwa pasar sebagai suatu sistem terdiri dari beberapa macam pasar (pasar barang, pasar uang, pasar tenaga kerja dan pasar modal) yang saling terkait. Sebaliknya, teori keseimbangan parsial biasanya hanya mengarahkan perhatiannya ke keseimbangan di satu sektor saja.

Analisis Input-Output (I-O) dan Social Accounting Matrix (SAM) merupakan alat analisis yang memasukkan fenomena keseimbangan umum yang didasarkan atas arus transaksi antarpelaku perekonomian dalam berbagai pasar. Buku ini tidak hanya membahas konsep dasar I-O dan SAM, tetapi juga dilengkapi dengan aplikasi kedua peralatan analisis tersebut dalam pembangunan ekonomi daerah. Aplikasi I-O dan SAM yang disajikan dalam buku ini benar-benar contoh kasus dari dunia nyata. Tidak kalah penting, buku ini juga menguraikan beberapa piranti lunak (software) yang dapat digunakan untuk berbagai analisis I-O dan SAM.

Buku ini ditujukan kepada para mahasiswa yang mendalami ilmu ekonomi, baik program S1, S2 dan S3, para pengajar (dosen) dan para praktisi kebijakan pembangunan.

Model-Model Kuantitatif untuk Perencanaan Pembangunan Ekonomi Daerah

Friday, July 2nd, 2010

Arief Daryanto & Yundy Hafizrianda
Bogor; IPB PRESS, 2010
ISBN : 978-979-493-253-7

Salah satu permasalahan yang dihadapi terkait belum optimalnya pelaksanaan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah adalah masih terbatasnya dan masih rendahnya kapasitas para perencana pembangunan di daerah, baik dari segi jumlah maupun dari segi profesionalisme. Hal ini dapat berpotensi menimbulkan ketidakefisienan, ketidakefektifan dan ketidakoptimalan pemanfaatan sumber daya yang tersedia bagi pembangunan di daerah.

Dalam rangka untuk meningkatkan kualitas perencanaan pembangunan ekonomi daerah, buku ini diharapkan dapat memberikan rujukan yang bermanfaat terkait dengan berbagai metode kuantitatif yang kerap digunakan dalam perencanaan pembangunan ekonomi daerah. Buku ini membahas penggunaan berbagai metode kuantitatif antara lain dari yang paling sederhana (Location Quotient, Shift Share dan Incremental Capital Output Ratio) hingga yang lebih rumit (Analisis Input-Output, Social Accounting Matrix, Regresi sederhana dan Regresi lanjutan).

Buku ini tidak saja membahas konsep dasar pemahaman berbagai metode kuantitatif tersebut tetapi juga dilengkapi dengan aplikasinya dalam proses perencanaan pembangunan ekonomi daerah. Aplikasi yang disajikan dalam buku ini benar-benar contoh kasus dari dunia nyata. Tidak kalah penting, buku ini juga menguraikan beberapa piranti lunak (software) E-views, LISREL, Analysis I-O for Practitioners (AIOP) dan MATS yang dapat digunakan untuk keperluan berbagai analisis dalam studi-studi empiris.

Buku ini tidak hanya ditujukan kepada para praktisi perencana pembangunan ekonomi di daerah, tetapi juga untuk berbagai lapisan mahasiswa, baik tingkat sarjana, magister maupun doktoral. Bagi perencana pembangunan buku ini dapat digunakan sebagai bahan praktik perencanaan dan bagi mahasiswa buku ini tidak saja berfungsi sebagai buku teks tetapi juga untuk referensi penting dalam penulisan karya ilmiah.

Model-Model Kuantitatif untuk Perencanaan Pembangunan Ekonomi Daerah

Friday, July 2nd, 2010

Arief Daryanto & Yundy Hafizrianda
Bogor; IPB PRESS, 2010
ISBN : 978-979-493-253-7

Salah satu permasalahan yang dihadapi terkait belum optimalnya pelaksanaan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah adalah masih terbatasnya dan masih rendahnya kapasitas para perencana pembangunan di daerah, baik dari segi jumlah maupun dari segi profesionalisme. Hal ini dapat berpotensi menimbulkan ketidakefisienan, ketidakefektifan dan ketidakoptimalan pemanfaatan sumber daya yang tersedia bagi pembangunan di daerah.

Dalam rangka untuk meningkatkan kualitas perencanaan pembangunan ekonomi daerah, buku ini diharapkan dapat memberikan rujukan yang bermanfaat terkait dengan berbagai metode kuantitatif yang kerap digunakan dalam perencanaan pembangunan ekonomi daerah. Buku ini membahas penggunaan berbagai metode kuantitatif antara lain dari yang paling sederhana (Location Quotient, Shift Share dan Incremental Capital Output Ratio) hingga yang lebih rumit (Analisis Input-Output, Social Accounting Matrix, Regresi sederhana dan Regresi lanjutan).

Buku ini tidak saja membahas konsep dasar pemahaman berbagai metode kuantitatif tersebut tetapi juga dilengkapi dengan aplikasinya dalam proses perencanaan pembangunan ekonomi daerah. Aplikasi yang disajikan dalam buku ini benar-benar contoh kasus dari dunia nyata. Tidak kalah penting, buku ini juga menguraikan beberapa piranti lunak (software) E-views, LISREL, Analysis I-O for Practitioners (AIOP) dan MATS yang dapat digunakan untuk keperluan berbagai analisis dalam studi-studi empiris.

Buku ini tidak hanya ditujukan kepada para praktisi perencana pembangunan ekonomi di daerah, tetapi juga untuk berbagai lapisan mahasiswa, baik tingkat sarjana, magister maupun doktoral. Bagi perencana pembangunan buku ini dapat digunakan sebagai bahan praktik perencanaan dan bagi mahasiswa buku ini tidak saja berfungsi sebagai buku teks tetapi juga untuk referensi penting dalam penulisan karya ilmiah.